art is a sex with no sweat

Its about the POSITIVE side of love, so dont think NEGATIVE

0 notes

Bulan Tertusuk Ilalang

(sebuah cerita manifestasi imajinasi)

Handphone di dalam sakunya bergetar. Sebuah email masuk dari sebuah nama yang tak dia kenal. 

Aku Bulan,mencari ilalang, 26tahun, Paviliun 28 No 13 Menteng. Ask for M.

Sebuah foto attached. Seorang wanita berwajah manis, dengan rambut hitam lurus tergerai sebahu, kacamata frame kelabu dan mata yang setengah menunduk. Tanpa senyum.

‘Minggu, sepuluh malam’ jawabnya singkat sambil menutup handphone dan kembali bekerja menyusun tabel laporan keuangan excel di depannya.

Baju kotak coklat tua dan celana jeans yang dipilihnya malam ini. Di depan kaca lelaki itu berdiri cukup lama mengamati bayangannya sendiri. Ilalang, nama yang biasa dia pakai di dunia maya. Dia suka nama itu karena menurutnya itulah dia. Identik mengganggu dan dianggap benalu tapi bisa tumbuh dimana saja dalam cuaca apapun. Dianggap tak berarti, tapi sebenarnya dia punya peran besar dalam menyusun ekosistem, yang tak banyak orang tahu.

Hampir satu tahun dia melakukan apa yang mungkin menurut orang lain adalah perbuatan nista, tapi menurutnya ini hanyalah cara dari sejuta cara memberi kebahagiaan pada manusia lainnya.

Ah sudah, tak perlu berdebat panjang tentang salah benar. Lakukan apa yang membuatmu bahagia, dan orang lain bahagia, dan berhenti menyesali. Selama ini dia melakukannya tanpa tekanan, pun orang yang memintanya. Both just for fun.

Oh bukan. Bukan seperti yang kamu bayangkan. Ilalang bukanlah penjahat kelamin yang suka berganti-ganti pasangan. Bukan. Dia merasa masih punya harga diri dan ego jiwa seni untuk sekedar melacurkan kelaminnya. Apa yang dia lakukan adalah passion. Ilalang menyebut dirinya ‘Free Passionate and Professional Massaseur’.

Iya, sejak SMA dia menyukai eksotika dalam pijat lawan jenis sebagai sebuah seni tanpa harus intercourse. Dan itulah yang dia lakukan dan pegang selama ini. Informasi tetangnya bergerak bawah tanah di dunia maya, dan jika ada seorang wanita yang tertarik untuk melakukannya, dia tinggal mengirimkan email dengan sebuah foto. Ilalang yang akan menentukan, apakah dia mau menerima tawaran itu atau tidak, dalam waktu dan kondisi mood yang dia inginkan.

Jadi bukan hanya karena nafsu, But it’s all about passion.

Sepuluh lebih lima, ketika dia sampai di Paviliun 28, sebuah tempat kos yang lumayan besar di bilangan Menteng Jakarta.  Kamar 13. Ujung paling kanan. Lantai dua.

Dua ketukan pelan di pintu, dan seorang wanita keluar dari dalam kamar. Wanita berambut hitam lurus sebahu, namun kali ini tanpa kacamata, dengan seyum manis, mata yang terkesan sendu, dan satu tahi lalat kecil di lesung pipi sebelah kiri. Dia memakai tanktop hitam dan celana pendek merah. Dua gelang rajutan tali warna merah dan kuning melingkat di tangan kanan.

‘Hai.. kamu ilalang ya?’ wanita itu menyapa. ‘Masuk…’

Ilalang beranjak masuk.

‘Aku Bulan’

‘Ilalang…’ jawabnya singkat sambil mengenggam tangan Bulan yang terasa dingin. Dia menangkap ada getar di ujung bibir Bulan yang berusaha dia tutupi dengan senyuman. Grogi? Mungkin ini kali pertama buatnya. Batin Ilalang.

Sejenak hening.

‘Mau kopi?’ Bulan berlalu berusaha menghindar dari kondisi canggung itu dan menuju meja kecil di sudut kamar tempat dia biasa menaruh kopi yang sepertinya sudah dia siapkan sebelumnya.

Ilalang terseyum, berjalan mendekati Bulan dari belakang. Ujung bibirnya menyentuh rambutnya yang wangi, dia menyibakkannya, dan berbisik ‘Umm.. mungkin kopinya bisa menunggu?’

Bulan tampak kaget, berusaha menata nafasnya dan berbalik. Wajah mereka beradu dalam kamar yang temaram. Belum sempat dia menjawab, bibir mereka pelan bertemu dan saling mengulum. Semakin lama semakin dalam.

‘Tunggu dulu…’ ucap Ilalang.

Dia menyalakan PC dan menancapkan flashdisk yang dia bawa, menyusun play list lagu yang telah dia setting sebelumnya. Kitaro, Maksim, Etta James, Nat King Cole, dan beberapa lagu jazz oldiest serta orkestrasi yang dia suka. Hmm… musik selalu menjadi alat paling efektif untuk memecahkan canggung menjadi rasa nyaman.

Ilalang membuka tas dan mengeluarkan botol kecil aroma terapi berwarna ungu dengan sebuah sumbu lilin di atasnya. Ketika dinyalakan, perlahan aroma camomile merambat pelan di udara. Dia menaruhnya di lantai ujung kamar, sebelum akhirnya dia mematikan lampu.

Deg.

Temaram kamar kos, hanya ditemani pendar lilin aroma terapi dari api yang bergerak tertimpa angin yang menyelinap dari bawah pintu. Ilalang memeluk Bulan dan perlahan satu per satu dia melepaskan baju Bulan hingga tak ada satu helai benang pun di tubuhnya. Ilalang mengambil selimut dan menutupi tubuhnya, kemudia melepas baju coklat dan celana jeansnya dan hanya tertinggal boxer merah kesukaannya. 

‘Udah siap?’ tanya Ilalang. Bulan mengangguk. Berjalan mendekati Ilalang duduk di tepi kasur.

‘Sebelumnya, aku Cuma pengen jelasin, kalo ini semua murni for fun, saling ingin membahagiakan tanpa tuntutan apapun setelahnya…’

‘Iya, aku tau dan itu yang aku mau…’

‘..dan satu lagi, yang pasti aku punya prinsip bahwa aku profesional di massage, artinya, kita boleh melakukan apapun, tentu selama kamu tak keberatan dengan hal itu, cuma… no intercourse. Ok? Itu karena aku sangat sangat sangat mengharagai kehormatan kamu sebagai wanita. Percaya kita bisa mendapat banyak fun, tanpa harus itu. Got it?’

‘Yep!’

‘Well, okay. Ambil bantalnya untuk di atas, dan satu lagi di bawah untuk menyangga pinggul kamu. Tengkurap aja ya…’ Bulan menurut, tidur tengkurap dan memejamkan mata.

Ilalang menyingkap rambut Bulan, dan mulai meneteskan oil dari tengkuk, tulang belakang, sampai ujung belahan pantatnya. Dia memulai menekan ujung jempolnya ke tengkuk dan memutar di sepanjang leher dan pundak.  Lama dia memijat bagian itu sebelum akhirnya bergeser ke lengan dan ujung jari.

Bulan menikmati setiap sentuhan dan pijatan Ilalang, terkadang menahan erangan ketika sentuhan Ilalang menyentuh bagian yang sensitif darinya.

Laura Fygi membawakan ‘Till There Was You cover lagu Beatles, ketika Ilalang mulai memijat punggung dan tulang belakang Bulan. Dia menikmati bagian ini. Menelusuri punggung yang menjadi bagian yang kurang bisa dilihat oleh kita. Merunut pelan dari atas ke bawah, dan menekan dengan sepuluh jari sepanjang punggung kanan dan kiri. Sesekali Bulan terengah menahan sentuhan ilalang yang semakin kuat.

Perlahan ilalang menurunkan tangan ke pantat Bulan. ‘Is it okay?’ tanya Ilalang. Bulan mengangguk.

Ilalang menaikkan posisi bantal yang menyangga pinggang Bulan sehingga dia sedikit menungging. Ilalang pun mulai dengan memijat pantat Bulan yang kencang dan indah. Sekuat logika, dia tetap berusaha profesional dan tidak melakukan hal diluar apa yang telah dia pegang selama ini. Konsentrasi…

Ilalang meneteskan lagi oil di dalam belahan pantatnya dan memasukkan dua jarinya untuk memijat di dalamnya.  Seketika Bulan melenguh panjang ketika jari jari ilalang mulai memijat dan menekan semakin kuat. Kaki Bulan beberapa kali menandak, menjejak kasur saat jari Ilalang menelusuri batas antara anus dan lubang vagina. Lama jari ilalang berputar di sana, tapi, sesuai janjinya, dia tidak menyentuh lubang paling sensitifnya itu.

Perlahan dia meneruskan ke bawah, memijat paha atas bagian belakang. Bulan melenguh dan membuka pahanya semakin lebar. Terlihat lubang vagina Bulan yang tampak begitu merah dan basah. Satu dua air mengalir sampai ke pahanya. Dengan telaten ilalang membersihkan dengan ujung jarinya. Dia menyukainya.

At Last, Etta James, mengalun saat Ilalang mulai memijat paha dan betis Bulan di tengah temaram lampu lilin dan aroma camomile yang semakin terasa. Setelah itu ke tapak kaki dan ujung jari. Dengan telaten Ilalang memijit satu satu jari kaki Bulan, karena disanalah letak pangkal saraf seluruh badan.

‘Balik, lan…’

Bulan membalikkan tubuhnya. Wajahnya merah merona, tatapannya lemah tapi terlihat sangat bahagia. Ilalang suka melihatnya. Melihat kebahagiaan dan kepuasan di mata orang lain, adalah kepuasan tersendiri baginya.

‘Angkat kedua tangan’ Bulan menurutinya. Payudara Bulan terangkat terlihat begitu menggoda, dengan puting yang merah dan berdiri menantang. Ilalang segera mengalihkan perhatian. Perlahan dia pijat lengan bagian dalam dan ketiak Bulan yang putih dan indah tercukur rapi.

Tak sengaja dia mendekatkan wajahnya ke ketiak Bulan, mencium aromanya dalam-dalam. Deodoran berpadu dg lembut aroma tubuh yang keluar secara alami saat libido sedang naik. Hmmmm…tak ada aroma seindah ini. Iya, ketiak adalah bagian salah satu bagian tubuh yang dia suka dari wanita. Fetish. Entah kenapa. Cukup lama Ilalang memijat sepanjang lengan dan ketiak sampai ujung dada Bulan.

‘umm.. Bulan, dada kamu mau dipijat juga, atau skip aja?’

‘Mau’ jawab Bulan cepat.

Ilalang menghela nafas, menajamkan pikirannya, saat dia mulai perlahan menyentuh payudara Bulan yang indah itu. Memijatnya dari pinggir, naik ujung ketiak, dan kembali lagi pinggir bawah. Kemudian dia memijat dengan ujung jempolnya naik dari bawah ke atas pada tiap bagiannya.

‘Teruus mas…’ desah Bulan tak sabar.

‘Sshhh… slow, udah merem dan nikmati saja’

Lama jarinya berputar di dada Bulan memijat dan memutar, menekan dan sesekali meremasnya, sampai akhirnya Bulan menarik kepala dan mendekatkan bibir Ilalang ke ujung puting Bulan yang tegak berdiri. ‘Please… cuma intercourse kan yang gak boleh’ ucap Bulan lirih.

Ilalang mengerti, dia menjulurkan lidah, dan perlahan memainkan ujung puting Bulan dengan tepi lidahnya. Memutar-mutar sebelum akhirnya mengulum dan menghisap puting Bulan sekuatnya. Setengah berteriak Bulan menahan sensasi itu sambil menarik kepala Ilalang agar masuk lebih dalam.

10 menit berlalu, Bulan belingsatan. Ilalang kembali meneruskan pijatannya ke perut Bulan. Lebih pada sentuhan daripada pijatan. Sentuhan memutar dari pusar, naik ke atas, lalu turun sampai ke batas pinggang.

‘Bulan, Your V, mau langsung ke kaki, atau….’

‘Pijat juga mas, plis…’ Bulan meminta

Tanpa diperintah, Bulan menaikkan posisi bantal penyangga dan membuka pahanya lebar. Ilalang melihat keindahan yang luar biasa terpampang di depannya. Vagina yang merah basah, dengan bulu-bulu yang tergunting rapi. Tidak tercukur bersih tapi pendek dan rapi. 

Perlahan dia meletakkan ujung jarinya ke bibir vagina Bulan yang basah, dan mulai memijat satu arah. Setiap pijatan terdengar suara teriakan Bulan yang tertahan. Dia mempelajari pijatan itu dari internet sebagai salah satu pijatan yang paling menenangkan bagi wanita, karena memang bagian itu menjadi bagian paling sensitif dari semua wanita. Jadi ketika kita bisa memijatnya dengan cara yang benar, lembut namun menekan di bagian yang tepat, akan menimbulkan sensasi luar biasa.

‘Mas, aku ga bisa nahan, kalopun, ga boleh masuk, tolong, plis, keluarkan dengan cara lain…’

Ilalang menatap Bulan yang terengah di dalam temaram kamar. Perlahan dia mendekatkan wajahnnya di Vagina bulan, dan mulai membenamkan lidahnya ke dalam.

Seiring orkstrasi Canon dari Pachelbel, Ilalang menjilat dan menghisap vagina Bulan yang semakin terasa  hangat dan basah, dan setiap Bulan merasakan orgasmenya dia menekan kepala Ilalang masuk ke dalam dengan kedua kaki terhentak.

‘..tunggu mas…’ Bulan menghentikan, lalu memutar badan. Dia menempatkan wajahnya di bawah Ilalang, tepat di bawah boxer merahnya. Dia membuka boxer merah itu, dan segera memasukkan batang lelaki Ilalang ke dalam mulutnya. Bulan mengulum semakin liar, seiring Ilalang yang menjilat vagina Bulan semakin dalam.

Musik berlalu semakin kencang. Dua manusia beradu hasrat dalam kamar yang temaram. Terengah dalam kenikmatan.

Lima kali ilalang merasakan basah yang membuncah di vagina Bulan dengan kaki yang menghentak, sebelum akhirnya Bulan terkulai lemah,  dan meluruskan kakinya.

Ilalang berdiri perlahan, mengamati tubuh Bulan yang berpeluh, tergolek di atas kasur, dengan mata terpejam, kelelahan. Ditimpa temaram cahaya lilin di ujung kamar, dia melihat wajah Bulan yang begitu indah, seakan sedang tersenyum dalam tidurnya.

Dia sampai pada bagian yang dia suka, sebuah encore. Dia menaikkan selimut dan menutupi tubuh Bulan, menata satu satu setiap detail kamar hingga rapi seperti sebelumnya. Parsial OCD, Ilalang tak bisa tenang sebelum semua benda kembali ke tempat semula, ke tempat seharusnya.

Lalu dia mematikan lilin dan lagu di PC nya. Perlahan dia memakai satu per satu bajunya kembali, mengendap karena tak ingin membangunkan Bulan. Setelah semua kamar rapi, Ilalang duduk di samping Bulan sejenak mengamatinya. Indah. Entah, dia begitu menikmati bagian ini, melihat seseorang terpuaskan olehnya adalah kepuasan tak ternilai. Pelan dia mengecup kening Bulan dan beringsut meninggalkan kamar. Mengunci kamar kosnya dari luar dan menyelipkan kuncinya masuk lewat bawah pintu kamar.

Diluar sepi. Gelap dan tenang. Sakral. Ilalang melirik jam tangannya. 02.30. Hmm… masih sempat untuk secangkir kopi sebelum pagi.

Malam yang begitu indah, Bulan tertusuk Ilalang.

 

 

Filed under cerita seks passion pijat panti pijat sex indonesia bulan ilalang